Pamer-Pamer...
Pamer-pamer cerpen nTa yang mau nTa lomba'in... Sapa tau ada penerbit yang lagi hunting-hunting,,,, *hahahaha* LOL
MENGGAPAI CITA DAN CINTA
1. Chatar Ibu
Dwi Purbasari, seorang akuntan di perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang ekspor impor. Saya mempunyai seorang suami berprofesi sebagai pilot, baik, tegas, pengertian dan demokratis. Tapi dia sudah meniggal 5 tahun yang lalu.
Sebagai seorang akuntan yang sangat diperlukan diperusahaan tempat saya bekerja, tentu saya sangat jarang berada dirumah. Tetapi setiap malam, saya selalu menyempatkan diri untuk makan malam bersama anak dirumah. Saya juga selalu mengajak anak saya rekreasi diakhir pekan. Selalu menyempatkan diri untuk berkonsultasi antara seorang ibu dan anaknya. Biar bagaimanapun juga, anak lebih penting dari segalanya.
Dalam penglihatan saya terhadap anak, saya merasa bahwa ia sudah dewasa. Sudah bisa menentukan mau jadi apa ia besok. Saya tidak memaksakannya harus menjadi pilot seperti ayahnya atau menjadi akuntan seperti saya. Saya berusaha membimbing mereka agar mereka tidak salah langkah karena terjerumus oleh arus pergaulan yang sudah semakin semrawut.
Jalanilah nak,
Ibu akan selalu mendukung mu.
2. Chatar ku
Aku, Radithya Putra Nugroho. Sekarang aku bersekolah di sekolah khusus penerbangan yang berada di Curug, Jawa Barat. Aku memang bercita-cita sebagai seorang pilot. Yah, boleh dikatakan, aku mengikuti jejak ayahku. Mungkin karena aku tidak mau berkutat dalam dunia ekonomi dan akuntansi seperti ibuku sekarang ini. Haha.
Disini, aku tinggal disuatu asrama yang memang disediakan oleh kampus tempat aku bersekolah. Setiap Jumat, aku kembali ke Jakarta. Jujur, sebenarnya aku tidak bisa jauh dari rumah. Tapi apa boleh dikata, demi masa depanku.
Aku ikut aktif dalam segala macam kegiatan yang ada di kampus. Beberapa kali aku dapat penghargaan dari lomba-lomba yang aku ikuti. Seperti olah raga atau perlombaan yang bersifat akademik. Aku juga menjabat sebagai ketua senat.
Tujuanku hanya satu. Mengumpulkan prestasi sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi seorang pilot yang handal. Sebenarnya aku hanya ingin membuat kedua orangtuaku bangga. Apalagi yang dapat aku lakukan untuk membalas jasa-jasa mereka selain membuat mereka bangga? Ah, andaikan Ayah masih hidup.
Aku akan jalani semua, walau rintangan datang, aku akan bertahan.
Untukmu ayah, ibu.
*** Aku, Putra. Ya, Radithya Putra Nugroho. Sudah 1 tahun aku bersekolah disini. Sekarang, di kampus ini, aku menemukan cinta. Gadis yang aku kenal lewat pertemuan anggota senat. Luna Sadewi. Cantik, pintar. Segudang prestasi. Gaya bicara yang sopan dan berhati-hati. Seakan tidak mau menyinggung sedikitpun lawan bicaranya.
Aku sudah mengenalkannya kepada ibuku. Andaikan ayah masih hidup. Ibuku menyambut hangat kedatangan Luna dirumahku waktu itu. ibuku berbincang-bincang dengan Luna. Dia menyetujui hubunganku dengan Luna. Luna juga sudah mengenalkanku kepada kelurganya. Keluarganya juga setuju atas hubungan kami ini.
Hari-hariku terasa cepat berlalu seperti halilintar. Tanpa hambatan. Ini semua berkat dukungan ibu dan juga ayah dari surga. Ya, tentu saja Luna.
Luna selalu memberikan dukungan tehadapku. Selalu membantuku jika aku dihadapkan pada suatu masalah. Setiap Jumat sore, aku selalu menyempatkan waktu berdua dengannya sebelum aku pulang sementara ke Jakarta. Luna pun pada akhir pekan selalu pulang ke Bandung.
***Entah kenapa sore itu, ada perasaan aneh yang menyergapku ketika aku memandang matanya. Entah apa. Lalu aku mendekap tubuhnya. Rasanya seperti tidak mau kehilangan dirinya. Tiba-tiba saja dia menangis. Ya, Luna menangis dipelukanku.
Lalu aku bertanya “ Ada apa?”
“Engga. Ga ada apa-apa. Aku Cuma ga mau kamu jauh dari aku. Hehe, aku manja ya. Padahal setiap hari kita ketemu.”
“Aku juga ga mau jauh dari kamu.” Lebih erat lagi aku mendekapnya. Seperti ingin berpisah seratus tahun saja rasanya.
Sore itu kami lalui dengan dekapan erat dan sebuah kecupan lembut.
Haah... Entah ada apa ini...
Luna, Aku sayang kamu.
Aku ingin jalani hidup berdua dengan mu.
***Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, aku terus memikirkan Luna. Kenapa ia tiba-tiba menangis? Firasat apa ini? Baru kali itu aku melihatnya menangis. Biasanya ia selalu tertawa dan bercanda dengan ku sebelum aku kembali ke Jakarta. Matanya tadi menyiratkan kesedihan yang mendalam. Seharian tadi dia tak banyak cakap. Hanya duduk menggenggam tanganku.
Ah, akan kutelpon dia jika aku sudah sampai rumah nanti. Saat itu aku mengirim sms kepadanya “Sayang, hati-hati. Nanti malam aku telpon.”
Semoga tidak terjadi apa-apa kepadanya.
*** Sesampainya di rumah, seperti biasa, aku langsung pergi mandi. Lalu bergabung bersama ibu untuk makan malam. Dan berbagi cerita. Aku juga menceritakan tentang Luna.
“Yaa, mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa terhadapnya.”
“Apa dia sakit?” Ibuku bertanya.
“Tidak. Dia tidak sakit.”
***Drrrrt....drrrtt.... Drrrrrt.... suara getar Hpku yang aku taruh di meja ruang keluarga. Cintaku Rumah begitulah tulisan yang muncul di LCD Hpku. Cepat-cepat aku menjawab.
“Halo?”
“Putra, ini bapak.” Ternyata ayahnya Luna.
“Ya, ada apa Pak?” tiba-tiba saja bulu kudukku merinding.
“Luna kecelakaan, sekarang ada di RS Hasan Sadikin”
“Saya segera kesana Pak!” Aku cepat-cepat mengambil kunci mobil dan langsung melesat keluar.
“Ada apa Nak?” Ibuku bertanya, air mukanya menyiratkan kekhawatiran.
“Luna kecelakaan Bu.”
***Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ibu juga turut serta. Ibu selalu mengigatkanku untuk selalu berdoa. Jalan tol Cipularang ini terasa tak ada ujungnya.
Ya Tuhan... Selamatkanlah Luna. Kekasihku.
***Perjalanan aku tempuh dengan waktu 1,5 jam. Tentu saja dengan kecepatan tinggi. Aku langsung memarkir mobil di basement rumah sakit. Lalu langsung menuju ruang UGD. Aku langsung bertemu dengan orang tua Luna. Ibunya sedang menangis. Aku dihadang suster, diperintahkan untuk memakai pakaian hijau rumah sakit dan penutup hidung.
Aku berjalan perlahan kearah Luna yang terbaring lemah. Alat bantu pernafasan, alat pengukur detak jantung, infus dan transfusi darah, perban membalut sekujur tubuhnya. Aku memegang tangannya, membelai pipinya. Tapi dia diam. Seakan tidak tahu kedatanganku. Aku meminta waktu berdua dengan Luna. Orang tua Luna pun mengerti. Akhirnya aku berdua dengan Luna. Diam, air mata mengalir jatuh kepipiku.
“Luna, aku ada disini. Apakah kamu merasakannya? Luna, kita janji akan terbang bersama di terbang pertama kita nanti. Kamu ingat?” Kataku membisikkan ditelinganya seraya menggengam erat tangannya.
Alat pengukur detak jantung itu makin berjalan pelan.
Luna, jangan tinggalkan aku. Aku merasakan tangan Luna menggengam lemah tanganku. Matanya terbuka sedikit. Dia tersenyum.
Setelah itu matanya terpejam lagi. Tapi tangannya masih menggenggam lemah tangan ku.
Bertahanlah, kumohon, Luna. Tolong cobalah bertahan.
Tepat pada saat itu, ibu,dan orang tua Luna kembali masuk. Di belakang mereka kembali hadir dokter dan para suster.
“Marilah kita berdoa bersama agar Luna tenang. Kita minta kepada Tuhan, jika memang dia harus sembuh, mari kita berdoa akan kesembuhan itu. Jika Luna harus pergi, biarlah ia pergi dengan ketenangan tanpa rasa sakit. Bismillahirrahmanirrahim....” Ayah Luna dengan begitu tabah memimpin doa di kamar Luna. Kami semua mengelilingi Luna, kekasihku. Tuhan, tolong kabulkan permintaanku, tolong buat dia mengisi hari-hariku lagi. Buatlah ia hidup! Tolonglah Tuhan!
Hening, senyap, doa itu begitu lirih. Dan hingga malam tiba, aku tak mau meninggalkan Luna walau sedetikpun. Semua sudah terlelap. Aku sama sekali tidak bernafsu dan tidak dihinggapi rasa kantuk. Meskipun aku tidak dapat berkata-kata, aku harap Luna mengetahui apa yang aku pikirkan dan apa yang kubicarakan dalam benakku padanya.
Luna, ingatkah kamu apa yang selalu kita bicarakan saat sore hari di taman asrama? Bagaimana rencana kita saat terbang pertama nanti? Kita akan menjelajahi dunia. Bahwa kita akan menjelajahi dunia kita yang lebih luas dari angkasa, sehingga aku sering bilang, ‘mana bisa dunia kita habis, tidak akan habis meski dimakan iblis pemakan dunia!’ saat itu kamu tertawa terbahak-bahak.
Luna, tawa itu tak akan pernah hilang dari benakku. Begitu juga dengan cita-cita kita. Itulah mengapa aku begitu bersungguh-sungguh menjalani hidupku. Kenapa aku bersungguh-sungguh dalam setiap kegiatan senat dan yang lainnya. Karna aku tau, setiap jalan yang kutempuh, akan ada dunia lain yang membentang. Tapi Luna, aku kan tidak tahu banyak yang ada dalam benakmu. Bisakah lain kali kamu ceritakan? Telepatiku pasti akan kusetel satu frekuensi denganmu. Trust me for doing that.
Aku merasa ada angin dingin yang menerpa tengkukku. Bersamaan dengan itu, kudengar Luna berbisik di telingaku, suara yang sangat kukenal dengan senyum yang pasti menyungging penuh damai di wajahnya yang riang.
‘Mas, aku pamit dulu ya. Percayalah, aku akan selalu sayang padamu. Awas ya, aku tidak mau melihat air mata di matamu. Baik-baik ya Mas.’
Dengan sedikit terkejut, kubuka mataku. Kulihat tanganku tergenggam dalam jari jemari Luna yang telah dingin. Kulihat juga alat pengukur detak jantung itu tak lagi membentuk gunung-gunung runcing asimetris. Hanya garis tipis dengan suara nging yang tak pernah diharapkan siapa pun. Isak tangis pecah dikamar itu. Dokter dan para suster datang, kami menunggu dengan degupan jantung yang kian kencang.
Dini hari, tepat pukul 04.00 wib, Luna pun pergi meninggalkan dunia ini. Meninggalkan aku. Meniggalkan cintaku.
Susah payah aku menahan air mataku. Aku tak mau Luna melihatku menangis dengan begitu sedih. Tapi ini sungguh sulit. Aku berjalan menuju taman yang terletak tak seberapa jauh dari kamar jenazah Luna sedang dimandikan. Maafkan aku Luna, mana mungkin aku tidak sedih saat kamu pergi?
Pemakaman dilangsungkan hari itu juga. Aku menghadirinya dengan khidmat dalam hujan yang datang begitu tiba-tiba.
Luna, Jika kamu melihat mataku penuh dengan air mata, kamu salah, karena itu air hujan. Itu air hujan Luna. Itu air hujan. Oke, aku menyerah, itu air hujan yang bercampur dengan air mataku. Ijinkan aku menangis sekali ini saja. Sungguh aku sangat mencintaimu Luna. Sampai kapan pun kamu akan selalu di hatiku. Sampai kapan pun. Selamat jalan Luna. Selamat jalan. Aku percaya, duniamu pasti tak akan habis meski dunia yang saat ini kujejaki telah kamu tinggalkan. Luna, selamat tinggal, dan selamat jalan. Semoga hanya kebahagiaan yang menemuimu di duniamu yang baru...
*** Hari ini, Hari terbang pertama ku. Jantungku berdegup kencang menunggu saat namaku dipanggil. Aku ditemani ibu saat itu. Aku teringat ayah. Teringat Luna. Seharusnya mereka berdua ada disini menemaniku. Aku merasakan mataku basah.
“Ada apa Nak?” Ibu ku bertanya sambil menghapus air mataku.
“Tidak apa-apa Bu.”
“Radithya Putra Nugroho.” Aah, namaku dipanggil.
Aku berjalan tegap kearah podium. Guru besar memberikan surat pengesahan bahwa aku sudah sah menjadi seorang pilot. Dan hari ini adalah terbang pertama ku. Aku kembali, dan memeluk erat ibuku.
“Kamu berhasil Nak. Kamu berhasil. Ibu bangga padamu. Ayah juga pasti bangga. Luna juga.” Ibuku berkata-kata sambil menangis haru.
Ayah, ibu, Luna, hari ini khusus aku persembahkan kepada kalian. Saat aku menuju cockpit, kakiku bergetar. Akhirnya aku berhasil menjejaki kaki disini. Luna, akan kubuktikan, sekarang akan kujelajahi angkasa. Menjelajahi dunia.
Ayah, ibu, Luna
Atas cinta yang tulus
Dan doa yang tidak pernah putus
MENGGAPAI CITA DAN CINTA
1. Chatar Ibu
Dwi Purbasari, seorang akuntan di perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang ekspor impor. Saya mempunyai seorang suami berprofesi sebagai pilot, baik, tegas, pengertian dan demokratis. Tapi dia sudah meniggal 5 tahun yang lalu.
Sebagai seorang akuntan yang sangat diperlukan diperusahaan tempat saya bekerja, tentu saya sangat jarang berada dirumah. Tetapi setiap malam, saya selalu menyempatkan diri untuk makan malam bersama anak dirumah. Saya juga selalu mengajak anak saya rekreasi diakhir pekan. Selalu menyempatkan diri untuk berkonsultasi antara seorang ibu dan anaknya. Biar bagaimanapun juga, anak lebih penting dari segalanya.
Dalam penglihatan saya terhadap anak, saya merasa bahwa ia sudah dewasa. Sudah bisa menentukan mau jadi apa ia besok. Saya tidak memaksakannya harus menjadi pilot seperti ayahnya atau menjadi akuntan seperti saya. Saya berusaha membimbing mereka agar mereka tidak salah langkah karena terjerumus oleh arus pergaulan yang sudah semakin semrawut.
Jalanilah nak,
Ibu akan selalu mendukung mu.
2. Chatar ku
Aku, Radithya Putra Nugroho. Sekarang aku bersekolah di sekolah khusus penerbangan yang berada di Curug, Jawa Barat. Aku memang bercita-cita sebagai seorang pilot. Yah, boleh dikatakan, aku mengikuti jejak ayahku. Mungkin karena aku tidak mau berkutat dalam dunia ekonomi dan akuntansi seperti ibuku sekarang ini. Haha.
Disini, aku tinggal disuatu asrama yang memang disediakan oleh kampus tempat aku bersekolah. Setiap Jumat, aku kembali ke Jakarta. Jujur, sebenarnya aku tidak bisa jauh dari rumah. Tapi apa boleh dikata, demi masa depanku.
Aku ikut aktif dalam segala macam kegiatan yang ada di kampus. Beberapa kali aku dapat penghargaan dari lomba-lomba yang aku ikuti. Seperti olah raga atau perlombaan yang bersifat akademik. Aku juga menjabat sebagai ketua senat.
Tujuanku hanya satu. Mengumpulkan prestasi sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi seorang pilot yang handal. Sebenarnya aku hanya ingin membuat kedua orangtuaku bangga. Apalagi yang dapat aku lakukan untuk membalas jasa-jasa mereka selain membuat mereka bangga? Ah, andaikan Ayah masih hidup.
Aku akan jalani semua, walau rintangan datang, aku akan bertahan.
Untukmu ayah, ibu.
*** Aku, Putra. Ya, Radithya Putra Nugroho. Sudah 1 tahun aku bersekolah disini. Sekarang, di kampus ini, aku menemukan cinta. Gadis yang aku kenal lewat pertemuan anggota senat. Luna Sadewi. Cantik, pintar. Segudang prestasi. Gaya bicara yang sopan dan berhati-hati. Seakan tidak mau menyinggung sedikitpun lawan bicaranya.
Aku sudah mengenalkannya kepada ibuku. Andaikan ayah masih hidup. Ibuku menyambut hangat kedatangan Luna dirumahku waktu itu. ibuku berbincang-bincang dengan Luna. Dia menyetujui hubunganku dengan Luna. Luna juga sudah mengenalkanku kepada kelurganya. Keluarganya juga setuju atas hubungan kami ini.
Hari-hariku terasa cepat berlalu seperti halilintar. Tanpa hambatan. Ini semua berkat dukungan ibu dan juga ayah dari surga. Ya, tentu saja Luna.
Luna selalu memberikan dukungan tehadapku. Selalu membantuku jika aku dihadapkan pada suatu masalah. Setiap Jumat sore, aku selalu menyempatkan waktu berdua dengannya sebelum aku pulang sementara ke Jakarta. Luna pun pada akhir pekan selalu pulang ke Bandung.
***Entah kenapa sore itu, ada perasaan aneh yang menyergapku ketika aku memandang matanya. Entah apa. Lalu aku mendekap tubuhnya. Rasanya seperti tidak mau kehilangan dirinya. Tiba-tiba saja dia menangis. Ya, Luna menangis dipelukanku.
Lalu aku bertanya “ Ada apa?”
“Engga. Ga ada apa-apa. Aku Cuma ga mau kamu jauh dari aku. Hehe, aku manja ya. Padahal setiap hari kita ketemu.”
“Aku juga ga mau jauh dari kamu.” Lebih erat lagi aku mendekapnya. Seperti ingin berpisah seratus tahun saja rasanya.
Sore itu kami lalui dengan dekapan erat dan sebuah kecupan lembut.
Haah... Entah ada apa ini...
Luna, Aku sayang kamu.
Aku ingin jalani hidup berdua dengan mu.
***Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, aku terus memikirkan Luna. Kenapa ia tiba-tiba menangis? Firasat apa ini? Baru kali itu aku melihatnya menangis. Biasanya ia selalu tertawa dan bercanda dengan ku sebelum aku kembali ke Jakarta. Matanya tadi menyiratkan kesedihan yang mendalam. Seharian tadi dia tak banyak cakap. Hanya duduk menggenggam tanganku.
Ah, akan kutelpon dia jika aku sudah sampai rumah nanti. Saat itu aku mengirim sms kepadanya “Sayang, hati-hati. Nanti malam aku telpon.”
Semoga tidak terjadi apa-apa kepadanya.
*** Sesampainya di rumah, seperti biasa, aku langsung pergi mandi. Lalu bergabung bersama ibu untuk makan malam. Dan berbagi cerita. Aku juga menceritakan tentang Luna.
“Yaa, mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa terhadapnya.”
“Apa dia sakit?” Ibuku bertanya.
“Tidak. Dia tidak sakit.”
***Drrrrt....drrrtt.... Drrrrrt.... suara getar Hpku yang aku taruh di meja ruang keluarga. Cintaku Rumah begitulah tulisan yang muncul di LCD Hpku. Cepat-cepat aku menjawab.
“Halo?”
“Putra, ini bapak.” Ternyata ayahnya Luna.
“Ya, ada apa Pak?” tiba-tiba saja bulu kudukku merinding.
“Luna kecelakaan, sekarang ada di RS Hasan Sadikin”
“Saya segera kesana Pak!” Aku cepat-cepat mengambil kunci mobil dan langsung melesat keluar.
“Ada apa Nak?” Ibuku bertanya, air mukanya menyiratkan kekhawatiran.
“Luna kecelakaan Bu.”
***Aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ibu juga turut serta. Ibu selalu mengigatkanku untuk selalu berdoa. Jalan tol Cipularang ini terasa tak ada ujungnya.
Ya Tuhan... Selamatkanlah Luna. Kekasihku.
***Perjalanan aku tempuh dengan waktu 1,5 jam. Tentu saja dengan kecepatan tinggi. Aku langsung memarkir mobil di basement rumah sakit. Lalu langsung menuju ruang UGD. Aku langsung bertemu dengan orang tua Luna. Ibunya sedang menangis. Aku dihadang suster, diperintahkan untuk memakai pakaian hijau rumah sakit dan penutup hidung.
Aku berjalan perlahan kearah Luna yang terbaring lemah. Alat bantu pernafasan, alat pengukur detak jantung, infus dan transfusi darah, perban membalut sekujur tubuhnya. Aku memegang tangannya, membelai pipinya. Tapi dia diam. Seakan tidak tahu kedatanganku. Aku meminta waktu berdua dengan Luna. Orang tua Luna pun mengerti. Akhirnya aku berdua dengan Luna. Diam, air mata mengalir jatuh kepipiku.
“Luna, aku ada disini. Apakah kamu merasakannya? Luna, kita janji akan terbang bersama di terbang pertama kita nanti. Kamu ingat?” Kataku membisikkan ditelinganya seraya menggengam erat tangannya.
Alat pengukur detak jantung itu makin berjalan pelan.
Luna, jangan tinggalkan aku. Aku merasakan tangan Luna menggengam lemah tanganku. Matanya terbuka sedikit. Dia tersenyum.
Setelah itu matanya terpejam lagi. Tapi tangannya masih menggenggam lemah tangan ku.
Bertahanlah, kumohon, Luna. Tolong cobalah bertahan.
Tepat pada saat itu, ibu,dan orang tua Luna kembali masuk. Di belakang mereka kembali hadir dokter dan para suster.
“Marilah kita berdoa bersama agar Luna tenang. Kita minta kepada Tuhan, jika memang dia harus sembuh, mari kita berdoa akan kesembuhan itu. Jika Luna harus pergi, biarlah ia pergi dengan ketenangan tanpa rasa sakit. Bismillahirrahmanirrahim....” Ayah Luna dengan begitu tabah memimpin doa di kamar Luna. Kami semua mengelilingi Luna, kekasihku. Tuhan, tolong kabulkan permintaanku, tolong buat dia mengisi hari-hariku lagi. Buatlah ia hidup! Tolonglah Tuhan!
Hening, senyap, doa itu begitu lirih. Dan hingga malam tiba, aku tak mau meninggalkan Luna walau sedetikpun. Semua sudah terlelap. Aku sama sekali tidak bernafsu dan tidak dihinggapi rasa kantuk. Meskipun aku tidak dapat berkata-kata, aku harap Luna mengetahui apa yang aku pikirkan dan apa yang kubicarakan dalam benakku padanya.
Luna, ingatkah kamu apa yang selalu kita bicarakan saat sore hari di taman asrama? Bagaimana rencana kita saat terbang pertama nanti? Kita akan menjelajahi dunia. Bahwa kita akan menjelajahi dunia kita yang lebih luas dari angkasa, sehingga aku sering bilang, ‘mana bisa dunia kita habis, tidak akan habis meski dimakan iblis pemakan dunia!’ saat itu kamu tertawa terbahak-bahak.
Luna, tawa itu tak akan pernah hilang dari benakku. Begitu juga dengan cita-cita kita. Itulah mengapa aku begitu bersungguh-sungguh menjalani hidupku. Kenapa aku bersungguh-sungguh dalam setiap kegiatan senat dan yang lainnya. Karna aku tau, setiap jalan yang kutempuh, akan ada dunia lain yang membentang. Tapi Luna, aku kan tidak tahu banyak yang ada dalam benakmu. Bisakah lain kali kamu ceritakan? Telepatiku pasti akan kusetel satu frekuensi denganmu. Trust me for doing that.
Aku merasa ada angin dingin yang menerpa tengkukku. Bersamaan dengan itu, kudengar Luna berbisik di telingaku, suara yang sangat kukenal dengan senyum yang pasti menyungging penuh damai di wajahnya yang riang.
‘Mas, aku pamit dulu ya. Percayalah, aku akan selalu sayang padamu. Awas ya, aku tidak mau melihat air mata di matamu. Baik-baik ya Mas.’
Dengan sedikit terkejut, kubuka mataku. Kulihat tanganku tergenggam dalam jari jemari Luna yang telah dingin. Kulihat juga alat pengukur detak jantung itu tak lagi membentuk gunung-gunung runcing asimetris. Hanya garis tipis dengan suara nging yang tak pernah diharapkan siapa pun. Isak tangis pecah dikamar itu. Dokter dan para suster datang, kami menunggu dengan degupan jantung yang kian kencang.
Dini hari, tepat pukul 04.00 wib, Luna pun pergi meninggalkan dunia ini. Meninggalkan aku. Meniggalkan cintaku.
Susah payah aku menahan air mataku. Aku tak mau Luna melihatku menangis dengan begitu sedih. Tapi ini sungguh sulit. Aku berjalan menuju taman yang terletak tak seberapa jauh dari kamar jenazah Luna sedang dimandikan. Maafkan aku Luna, mana mungkin aku tidak sedih saat kamu pergi?
Pemakaman dilangsungkan hari itu juga. Aku menghadirinya dengan khidmat dalam hujan yang datang begitu tiba-tiba.
Luna, Jika kamu melihat mataku penuh dengan air mata, kamu salah, karena itu air hujan. Itu air hujan Luna. Itu air hujan. Oke, aku menyerah, itu air hujan yang bercampur dengan air mataku. Ijinkan aku menangis sekali ini saja. Sungguh aku sangat mencintaimu Luna. Sampai kapan pun kamu akan selalu di hatiku. Sampai kapan pun. Selamat jalan Luna. Selamat jalan. Aku percaya, duniamu pasti tak akan habis meski dunia yang saat ini kujejaki telah kamu tinggalkan. Luna, selamat tinggal, dan selamat jalan. Semoga hanya kebahagiaan yang menemuimu di duniamu yang baru...
*** Hari ini, Hari terbang pertama ku. Jantungku berdegup kencang menunggu saat namaku dipanggil. Aku ditemani ibu saat itu. Aku teringat ayah. Teringat Luna. Seharusnya mereka berdua ada disini menemaniku. Aku merasakan mataku basah.
“Ada apa Nak?” Ibu ku bertanya sambil menghapus air mataku.
“Tidak apa-apa Bu.”
“Radithya Putra Nugroho.” Aah, namaku dipanggil.
Aku berjalan tegap kearah podium. Guru besar memberikan surat pengesahan bahwa aku sudah sah menjadi seorang pilot. Dan hari ini adalah terbang pertama ku. Aku kembali, dan memeluk erat ibuku.
“Kamu berhasil Nak. Kamu berhasil. Ibu bangga padamu. Ayah juga pasti bangga. Luna juga.” Ibuku berkata-kata sambil menangis haru.
Ayah, ibu, Luna, hari ini khusus aku persembahkan kepada kalian. Saat aku menuju cockpit, kakiku bergetar. Akhirnya aku berhasil menjejaki kaki disini. Luna, akan kubuktikan, sekarang akan kujelajahi angkasa. Menjelajahi dunia.
Ayah, ibu, Luna
Atas cinta yang tulus
Dan doa yang tidak pernah putus

0 Comments:
Post a Comment
<< Home